Editorial: Football is Coming Home (Again)?

Irawan Dwi Ismunanto (Editor in Chief Football5star.com)


Thursday January 01, 1970

Sepak bola Inggris merasakan puncak euforia pada 2019. Keberadaan Liverpool, Tottenham Hotspur, Chelsea, dan Arsenal, di partai final dua kompetisi paling bergengsi di Eropa, Liga Champions dan Liga Europa, membuat Inggris membusungkan dada. “Football is coming home!”, kata mereka.


Thursday January 01, 1970

Bukan tanpa alasan masyarakat Inggris, khususnya kalangan suporter dari keempat klub tersebut, menganggap dua all English final sebagai bukti sahih kehebatan sepak bola Inggris. Pasalnya, selama beberapa tahun terakhir, Inggris memang merasakan cukup banyak dilimpahi nikmat kejayaan.


Thursday January 01, 1970

Tengok saja ketika timnas Inggris level usia muda mampu menjuarai Piala Dunia U-17 dan U-20 pada 2017 silam. Tak mau kalah dengan adik-adiknya, timnas senior Inggris pun meraih prestasi bagus pada Piala Dunia 2018. Meski tak mampu juara, keberhasilan menembus semifinal dinilai sebagai hal yang membanggakan.

Sampai akhirnya, kebanggaan masyarakat Inggris mencapai puncak saat empat klub menghadirkan All English final di Liga Champions dan Liga Europa. Citra miring sepak bola Inggris perlahan tereduksi. Kini, klaim bahwa Inggris sekadar memanfaatkan kolonialisme untuk mengeruk popularitas sebagai kiblat sepak bola, tak lagi mendasar.


Thursday January 01, 1970

Musim ini, semangat tak kalah tinggi masih digaungkan tim-tim asal Inggris. Geliat klub-klub raksasa di Italia, Spanyol, hingga Jerman, tak dijadikan penghalang. Inggris masih bersemangat untuk menyenandungkan “Football is coming home (again)” di pentas Eropa.

Irasionalitas Klub-klub Inggris di Liga Champions

Skysports

Lalu, dari mana klub-klub Inggris mendapatkan semangat dan keyakinan tinggi itu? Jika ditelurusi lebih mendalam, hal tersebut berawal dari irasionalitas masyarakat Inggris. Dibanding negara lain di Eropa seperti Italia dan Prancis, Inggris termasuk tertinggal dalam pemikiran tentang rasionalitas.

Ketertinggalan Inggris tak lepas dari beragam faktor. Salah satunya keberadaan tokoh pemikir rasional. Prancis memiliki Rene Descartes yang memengaruhi pola pikir masyarakatnya. Italia bahkan punya Niccolo Machiavelli yang terkenal sangat memperhitungkan apa pun. Namun, Inggris hampir tidak punya.

Irasionalitas masyarakat Inggris juga tergambar dari sejumlah literatur sastra populer dalam budaya Anglo Saxon. Sebut saja dua kisah mengenai Beuwulf dan King Lacer. Dua cerita itu diakhiri dengan kematian tragis, tapi masyarakat Inggris sangat menyukainya.

Dalam sepak bola, irasionalitas orang Inggris tergambar dalam semangat tanding yang tinggi. Tim-tim asal Inggris tidak senang berhitung. Mereka cenderung melakukannya saja. Mereka tidak takut kalah dan akan menerimanya secara sportif jika memang telah berusaha maksimal. Tak heran Liverpool dan Tottenham mampu membuat comeback irasional pada laga semifinal Liga Champions 2018-2019 melawan Barcelona dan Ajax.

Independent.co.uk

Kalau jeli mengamati, kita mungkin bisa meyakini bahwa comeback sensasional yang dilakukan klub-klub Inggris bukan sebuah kebetulan. Tim dari Inggris mampu melakukannya karena dikenal memiliki semangat pantang menyerah. Tengok saja bagaimana Manchester United melakukannya pada final 1998-1999, atau Liverpool pada final 2004-2005.

“Di Inggris, mungkin karena berada di kepulauan, mereka lebih seperti pejuang yang bersemangat. Mereka memandang pertandingan bagaikan duel pada masa lalu, sebuah pertarungan hingga mati. Ketika orang Inggris berperang, dia akan pulang dengan kemenangan atau menjadi mayat,” pengakuan mantan Manajer Arsenal Arsene Wenger.

Sikap seperti itu sangat penting artinya dalam olahraga seperti sepak bola. Itu akan membuat mereka tak kenal kata menyerah. Semangat itu pula yang akan kembali diusung klub-klub Inggris di kompetisi antarklub Eropa musim 2019-2020, khususnya Liga Champions. Jadi, bisakah football is coming home (again)?

The post Editorial: Football is Coming Home (Again)? appeared first on Football5star Berita Bola.